STUDI KASUS MIGRASI PERANGKAT LUNAK OPEN SOURCE
Open source adalah istilah untuk software yang kode
programnya disediakan oleh pengembangnya untuk umum agar dapat dipelajari cara
kerjanya, diubah atau dikembangkan lebih lanjut, dan disebarluaskan. Jika
pembuat program melarang orang lain untuk mengubah dan atau menyebarluaskan
program buatannya, maka program itu bukan open source, meskipun tersedia kode
programnya.
Sebuah
perusahaan swasta ingin melakukan migrasi dan integrasi sistem di bidang IT.
Motivasinya adalah efisiensi biaya tanpa mengurangi produktifitas, 3 hal yang
ingin mereka lakukan adalah:
- Efisiensi
biaya pembelian perangkat lunak (aplikasi, sistem operasi)
- Belanja
tenaga kerja, khususnya asing (expatriat)
- Optimalisasi
teknologi jaringan komputer
Perusahaan
swasta ini ingin mengefisiensikan biaya tanpa mengurangi produktifitas, agar
semua itu tercapai beberapa caranya yaitu pembelian perangkat lunak dengan
menggunakan sistem operasi dan juga software open source. Perangkat
Lunak Legal Berbasis Free Open Source Software (FOSS) adalah
perangkat lunak kode sumber terbuka yang dilisensikan secara bebas atau terbuka
untuk memberikan hak pengguna dalam menggunakan, mempelajari, mengubah, dan
memperbaiki perangkat lunak melalui kode sumber yang ada. Pengembangan FOSS
dimulai dari yang tidak terstruktur. Pengembang merilis kode programnya ke
publik meskipun baru berfungsi secara minimal, dan kemudian vddjhgfdmengubah
programnya sesuai umpan balik yang diberikan publik.
Pengembang
lain bisa ikut mengembangkan program itu berdasar kode-kode yang telah ada.
Pada periode waktu tertentu, keseluruhan sistem operasi dan aplikasi menjadi
tumbuh dan berkembang secara terus menerus. Dengan merilis program lebih cepat,
dan memberikan izin kepada pengguna untuk megubah dan meredistribusi kode
sumber, pengembang FOSS memanfaatkan kembali karya yang dihasilkan oleh
compatriots. Mengurangi duplikasi kerja akan membuat skala pengembangan FOSS menjadi
besar, karena ribuan pengembang di seluruh dunia dapat bekerja sama. Biaya
perawatansoftware sering sama atau lebih besar dari biaya
pengembangan awal. Jika sebuah perusahaan merawat software sendirian,
maka pekerjaan itu menjadi sangat mahal. Dengan menggunakan model pengembangan
FOSS, biaya perawatan dapat dibagi di antara ribuan pengguna potensial,
sehingga mengurangi biaya perawatan per orang atau organisasi. Demikian pula
peningkatan kemampuan software dapat dilakukan oleh banyak
organisasi atau individu, yang hasilnya akan lebih efisien dalam menggunakan
sumber daya.
Kebutuhan
akan perangkat lunak memang hal yang pasti untuk pengguna di sebuah perusahaan,
tetapi yang menjadi permasalahan adalah perangkat lunak tipe apa yang digunakan
dan cara mendapatkannya. Perangkat lunak atau softwareberbayar pada
umumnya memang memiliki fitur yang lebih jika dibandingkan dengan software yang
bersifat Freeware danOpen Source, tetapi tidak menutup
kemungkinan software open source bisa lebih bagus dari software berbayar,
hanya saja pengenalan akan software open source kurang dan
kebiasaan menggunakan berbayar yang terasa lebih lengkap sudah membudaya.
Contohnya penggunaan Software untuk perangkat kantor, untuk
kategori Open Source tersedia Libre Office, Open Office,
Sedangkan kategori berbayar ada Microsoft Office. Pengguna Microsoft Office
bisa dibilang lebih banyak jika dibandingkan dengan Open Office dan lainnya.
Perusahaan
juga bisa meminimalisir belanja tenaga kerja dan juga optimalisasi teknologi
jaringan computer dengan menggunakan cloud computing.
Komputasi awan (cloud computing) adalah gabungan pemanfaatan teknologi
komputer (‘komputasi’) dan pengembangan berbasis Internet (‘awan’). Awan (cloud)
adalah metafora dari internet, sebagaimana awan yang sering digambarkan pada
diagram jaringan komputer. Sebagaimana awan dalam diagram jaringan komputer
tersebut, awan (cloud) dalam Cloud Computing juga
merupakan abstraksi dari infrastruktur kompleks yang disembunyikannya.Cloud
computing merupakan pengembangan dari client server yang
terhubung dengan ratusan bahkan ribuan komputer lainnya dan dapat diakses via
internet (Wahana komputer, 2011). Menurut sebuah makalah tahun 2008 yang
dipublikasi IEEE Internet Computing “Cloud Computing adalah
suatu paradigma di mana informasi secara permanen tersimpan di server di
internet dan tersimpan secara sementara di komputer pengguna (client)
termasuk di dalamnya adalah desktop, komputer tablet, notebook, handheld,
sensor-sensor, monitor dan lain-lain.”
Komputasi
awan adalah suatu konsep umum yang mencakup SaaS, Web 2.0, dan tren teknologi
terbaru lain yang dikenal luas, dengan tema umum berupa ketergantungan terhadap
Internet untuk memberikan kebutuhan komputasi pengguna. Sebagai contoh, Google
Apps menyediakan aplikasi bisnis umum secara daring yang diakses melalui suatu
penjelajah web dengan perangkat lunak dan data yang tersimpan di server.
Komputasi awan saat ini merupakan trend teknologi terbaru, dan contoh bentuk
pengembangan dari teknologi Cloud Computing ini adalah iCloud. Penggunaan cloud
computingmerupakan hal penting dalam suatu sistem penyimpanan data dari
suatu sistem, misalkan pada sistem perusahaan. Jika selama ini sebuah
perusahaan swasta menggunakan komputer server dalam penyimpanan data, maka
penyimpanan tersebut dirasa kurang efektif karena tidak cocok untuk network
skala besar, administrasi menjadi tidak terkontrol yang mana tiap pengguna
harus dilatih untuk menjalankan tugas administratif. Cloud computing memiliki 4
model deployment:
1.
Public cloud
2.
Private cloud
3.
Hybrid cloud
4.
Community cloud
Komentar
Posting Komentar